Opera Team CampRed Bag.3

Dulu kita sahabat

teman begitu hangat,

mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat,

berteman bagai ulat

berharap jadi kupu-kupu

——————————–

Muhammad Danurrahman Ibrahim, akrab dipanggil Aim.

Domisili, Sindang laut.

Pekerjaan, pengusaha warnet dan apotik.

Warna favorit : Coklat

Posisi dalam Team : Semula Ranger Ungu, lalu protes, dan akhirnya jadi Ranger Cokelat.

Makanan favorit : Pepes tahu

Lagu favorit : Aku hanya ingin setia

Motto hidup : Keluarga Nomer satu, no bargaining!

Status : TARGET UTAMA!

KLIK….deziiinggg….

Perempuan berkacamata hitam itu mematikan komputer (aneh juga ya, ngapain pake kacamata hitam saat mengoperasikan komputer). Dia berputar dari tempat duduknya, menatap seorang pria bekepala botak yang berdiri di belakangnya.

” Target utama, selesaikan hari ini juga!”

Si pria berkepala botak yang juga berkacamata hitam mengangguk.

Si perempuan berkacamata hitam menghela nafas, lalu menunduk. ” Jangan sakiti dia. Bawa dia hidup-hidup.”

—————————————————————–

Sebagai seorang surveyor kredit, Doddy Firdiaman kebingungan harus mencari alasan tepat membolos dari kantornya demi tugas spionase. akhirnya dia berhasil mencari alasan.

” Dalam seminggu ke depan saya akan survey Mr. Okinomori Haikoto, Pak!” begitu lapornya pada atasan.

” Wah, kedengarannya dia orang Jepang?”

” betul, pak!”

” Calon nasabah yang menjanjikan. Apa jaminan yang mau dia berikan?”

” Sebuah pulau di Jepang Pak, lengkap dengan segala fasilitasnya Pak, ada kolam renang, hotel berbintang, plus turis-turisnya.”

” berarti kamu harus survey ke Jepang ya?”

Doddy pria jujur, dia bingung kalo harus berbohong. ” Nggak juga Pak.”

” Lalu? Kenapa kamu ijin luar kota satu minggu?”

Doddy bingung, antara harus jujur atau bohong. ” Bukan ke Jepang Pak, ke Sudan.”

” Sudan???!”

Nah lo, kenapa dia bilang Sudan ya? Doddy sendiri gak tau sebabnya. ” Ya, barangkali saja dia ada disana, Pak!”

” Kok barangkali ada disana?”

” Kalo bukan Sudan, mungkin di Maroko, Pak!”

” Sekarang maroko? Sebenarnya jaminannya dimana? Yang jelas donk! Kita kan butuh jaminannya!”

” Mmm…di Plered, Pak! Jaminannya di Plered..” Makin kacau

Sang pimpinan mulai kesal, bingung dan bete. ” Doddy! apa maksud kamu sebenarnya? jujur aja, kamu mau kemana sebenarnya?!”

” Sayaa….mau ke suatu tempat Pak, mau…mau menghadiri reuni…”

” Reuni satu minggu?”

” Bukan Pak, bukan reuni, apa ya…Mmm, tugas rahasia, kebetulan saya pimpinannya. Tapi saya tidak bisa mengatakan tugas apa itu ke bapak, kan rahasia pak.”

” kalau begitu, kamu tidak perlu repot-repot kembali ke kantor! Keluar dari ruangan saya!”

” Baik Pak!” Doddy berbalik, lalu sejenak kemudian dia teringat sesuatu. Harga dirinya terusik. Dia baru sadar kalau dia terancam dipecat. Waah, ini tidak bisa dibiarkan. Saya kan Ranger Merah, apa kata ranger lain kalo saya dipecat? Doddy lalu berbalik, dan menatap atasannya lurus-lurus. Mulutnya komat-kamit. Dia mendekati atasannya. Si atasan bingung, menyangka Doddy mau menciumnya.

” Apa-apaan kamu? Hey…heyy…kita bukan muhrim…kita sesama pria…saya masih nor….maaal..” Suara si atasan makin lemah, makin lemah, bola matanya berputar-putar, lalu dia mematung seperti manekin.

” Bagaimana Pak, apa saya boleh bolos satu minggu untuk kegiatan menyelamatkan bumi?” tanya Doddy kemudian.

” Boo…Leee..Hhh…” jawab si atasan dengan lemah.

” Yihaaa…!” Doddy bersorak. “Makasih Pak! Diam di tempat ya Pak, hitung sampe sepuluh, dalam hitungan sepuluh, bapak harus sadar dan melupakan semuanya, tapi bapak akan mengijinkan saya bolos!”

Doddy menjentikkan jari. Dia senang sekali, karena tak perlu berbohong.

———————————————————–

Aim baru saja membuka apotiknya. Seorang karyawannya datang, lalu Aim menyodorkan kunci padanya.

” Jaga apotik dan warnet baik-baik selama saya pergi.”

Si karyawan bengong. ” Bapak mau kemana?”

” Keluar kota.”

” Iya, tapi kemana Pak?”

” Plered.” Aneh, selalu kata Plered yang terlintas di benak para campred tiap terdesak.

” Itu kan deket Pak? Belum luar kota..”

” Plered cabang Banyumas..” Aim ngeles. ” Sudahlah, pokoknya, jaga baik-baik bisnis kita. Kalau ada yang tanya aku, bilang aja lagi ke Plered Banyumas. Hati-hati, ya. Kalo ada apa-apa denganku, hubungi Nyonya, suruh dia mengungsi ke Yogya”

” Yogya baru apa Yogya lama Pak?”

” Yogyakarta, bego!”

Si karyawannya terbengong-bengong.

Aim mengenakan kacamata hitamnya, lalu masuk ke mobilnya setelah tengok kanan-kiri terlebih dahulu. Si Karyawan masih bengong, otaknya berputar, langsung googling mencari denah Plered-Banyumas. Emang ada ya? Dia masiih memperhatikan terus sampai mobil boss-nya berlalu.

—————————————————————————

Handphone Dian berdering. Dian langsung menutupinya dengan bantal. Lalu sambil bisik-bisik, Dian bicara di telepon.

” Halo?”

” Sudah siap, Bu, eh Mih?” terdengar suara Aim.

” Sudah…Tolong parkirkan mobil di sebelah jendela kamar. Jangan berisik..”

” Saya kan sudah di bawah jendela kamar.”

” Kenapa gak ngomong dari tadi?”

” Kan saya ketok-ketok tadi..”

” Gue pikir tadi tukang nasi goreng..”

” Emang tukang nasi goreng sering ketok jendela kamar? Nah lo ngapain?”

” Udah jangan dibahas, nggak penting!” Dian mematikan handphone, lalu membuka jendela kamarnya pelan-pelan. Wajah Aim menyembul di bawah jendela kamar. Nyengir.

” Lemparin koper lo kesini!” bisik Aim. Dian mengangguk. Dia langsung mengangkat koper besar dan menyorongkannya keluar jendela.

Aim menerima kopernya dengan susah payah. ” Hup! berat amat! Emangnya apa aja isinya?”

” Baju gue. Semua baju dalam lemari gue masukin kesitu. Baju musim panas, musim dingin, musim gugur, musim semi, semua ada! Ini satu lagi!”

” Apaan?”

Bluk! Sebuah travel bag mampir ke tangan Aim. ” Sepatu-sepatu gue!”

Belum lagi Aim bernafas, sebuah beauty case ikut mendarat di atas travel bag. ” tas make up gue tuh!”

Aim bengong.

Blukk!! “Laptop gue!”

Lalu…Blugkkk…!! ” Peralatan masak gue!”

Bruuugghhh….!! ” Kompor gas gue!”

Bruugghh!!!…. ” kamar mandi gue!!!”

Bruuugghhhhhhh….. ” tempat tidur gue tuh…”

Merasa tidak mendengar respon Aim, Dian penasaran dan melongok ke bawah jendela. Aim nggak keliatan. Dian kesel banget. ” Aiiim…! kamu dimana sih??? jangan tinggalin gue…”

dari bawah tumpukan barang terdengar suara Aim yang lemah…

” Miiih, gue disiniihhhh…..”

” Ya ampun! Lo ngapain tiduran disitu, Im! dasar malas! Ayo bangun! Cepet kita pergi sebelum nyokap gue tau!”

Dian meloncati jendela dan turun untuk membantu Aim mengemasi barang-barang ke bagasi.

” banyak banget sih bawaannya! kaya mau ke Sudan aja!” Nah lo, Aim juga menyebut Sudan. Mungkin sebenarnya dia ada pertalian darah kembar siam yang tak terdeteksi dengan Doddy.

” Udah Pih, jangan ribut, nanti nyokap gue keburu tau. Tuh, beliau lagi masak. Ayo cepet berangkat.”

Aim menyalakan mesin mobilnya, kemudian mobil menderu mulus meninggalkan halaman rumah Dian. Dari arah dapur terdengar suara Ibu Dian yang nyaring melengking.

” Mbak Diaaannn….!! Mana kompor gas Mamaa…..????!!!”

——————————————————————————-

Pukul delapan pagi.Lokasi : kantor Yuni.

Ada pemandangan aneh yang terlihat di pagi hari itu. Yuni, berseragam Pemda, berdiri di depan pintu masuk ruang Pimpinannya. Tegap menghadap pintu yang masih tertutup.

Dibelakangnya berdiri seorang sopir, berpakaian safari, memakai peci. Di belakang sopir, berdiri seorang tukang kebun, membawa cangkul, berpakaian celana kutung dan kaos singlet, berikat kepala, dan dipundaknya bertengger seekor burung hantu. Lalu dibelakang tukang kebun itu berdiri seorang koki, perempuan berpakaian serba putih, bercelemek, mengenakan topi koki, membawa wajan dan penggorengan. Paling belakang berdiri seorang perempuan, eh, maksudku itu aku. Mengenakan celana panjang dan kemeja warna biru muda khas cleaning service, membawa segagang sapu dan bulu ayam. Kami berbaris dengan tertib di depan pintu.

Tapi aku tak melihat si IT, Ruly.

” mana Ruly, Yun?” bisikku dari belakang.

” Dia baru tugas besok, supaya tidak terlalu mencolok.” jawab Yuni tanpa menoleh.

Akupun melihat ke seluruh teman rangerku, menilai penampilan kami. Sekarang saja sudah sangat mencolok.

” Ingat, jangan bicara apapun. Dengarkan saja apa kata boss aku!” cetus Yuni tanpa menoleh.

Kami semua mengangguk. Jelas Yuni nggak ngeliat anggukan kami.

” Kalian dengar tidak aku bicara?!” bisik Yuni lagi.

Kami kembali mengangguk. Yuni masih nggak liat.

Yuni kesal, merasa dicueki, dia lalu berbalik. ” Kok pada diem sih?”

” Katanya tadi nggak boleh ngomong, Mbok?” celetuk Ipang, si tukang kebun.

” Sekarang boleh, nanti jangan!”

” Oke, kita denger kok!” Doddy si sopir mengacungkan jempol tangan dan kakinya sekaligus.

Yuni kembali berbalik, lalu tiba-tiba pintu terbuka. Seorang asisten mempersilakan kami masuk.

Saat itulah untuk pertama kalinya kami bertemu Boss Yuni, seorang pimpinan tertinggi di kantor pemerintahan ini. Boss yang menyewa team campred untuk tugas rahasia ini. Seorang lelaki yang simpatik, keliatan berwibawa, keliatan jujur, keliatan kebapakan, keliatannya orang Sunda, keliatannya dia lagi lapar.

” Welcome!” serunya penuh kebahagiaan. Keliatannya dia lagi belajar bahasa Inggris.

Dian si koki menyenggolku. ” Apa maksudnya?”

” Selamat datang,” bisikku.

” Itu sih gue ngerti, Kampret! Apa maksudnya welcome??”

” Ya selamat datang, Kampreeett! Nggak ada maksud apa-apa!” balasku kesal. Yuni langsung melototi kami. Dian pun bungkam.

” Welcome,” ulang si Boss lagi.

” yes, sir,” jawab Doddy spontan.

” What a great team!” ujar si Boss lagi.

” That’s right, sir,” jawab Doddy lagi. Sejenak kemudian dia mengaduh karena Yuni menginjak kakinya, Ipang menggeplak kepalanya dan Dian menonjok dadanya. Cuma aku yang tidak melakukan apapun padanya, rugi juga.

” Why did you hurt me??” bisik Doddy memelas sambil melihat ke arah Yuni, Ipang dan Dian.

” Silent!” bisik Yuni dengan desis judes.

Doddy pun kembali tertib. Dia tak lagi berani angkat suara.

” I just want to say that i really-really lucky that i have a great team like u all, guys, and girls…This is just a…a…” Tiba-tiba Si Boss melirik kamus yang terbuka di depannya. Kami menunggu. Dia mengebet-ngebet halaman, tapi keliatannya tak ditemukannya kosa kata yang dicari. ” This is a…a…”

” Can i help you Sir?” selaku tanpa mempedulikan seluruh anggota team yang masing-masing sudah mengangkat tangan, siap menggeplak.

” yes, off course, i like to..aaa….naon eta teh bahasa inggrisna keajaiban?”

” Miracle!” Kami serentak menjawab bersamaan.

” Nah, eta…This is just like a miracle for me. Just remember that we have to save our nation!” Si Boss mengangkat tinjunya ke udara. Serentak kami bertepuk tangan, terbawa emosi, lalu saling bersalaman.Si Boss keliatan puas, dia menepuk pundak kami satu demi satu dengan mata berkaca-kaca.

Lalu Si Boss kembali mencari-cari kosa kata dalam kamus. ” Wait, i just remember of one quote!”

kami tegang menunggu. Si Boss tampak sangat serius, membuat kami turut bersemangat.

” Life begin at fourty!”

Kami berpandangan. Apa maksudnya?

” Sorry Sir, what do you mean?” sela Yuni takut-takut.

” Don’t try this at home!”

Kami makin berpandangan tak mengerti.

” Better late than never…” Si Boss seperti sedang berdeklamasi.

Kali ini Ipang menyahut. ” No smoking area, Sir!”

” That’s right!” Si Boss gembira menunjuk Ipang. ” I love it!”

” And Nothing gonna changes my love for you…!” sahut Ipang lagi.

” Oh, good quote, young Man!” Si Boss jejingkrakan sambil mengacungkan jempol. Belakangan kami baru tau kalo si Boss ini memang lagi keranjingan bahasa Inggris dan berusaha belajar mati-matian, konon demi menyambut kunjungan kedua Presiden Obama tahun 2015 nanti.

Selama dua jam kami pun kelelahan meladeni si Boss bicara dalam bahasa Inggris. Aku merasa lidahku terbelit-belit, efeknya jadi haus. Rasanya gatel pengen menyebut : Kantin mana Kantin?

Selesai diceramahi dengan aneka pepatah bahasa Inggris, kamipun akhirnya diijinkan keluar ruangan untuk melaksanakan tugas masing-masing. Si Boss memberi aba-aba dimulainya penyelidikan dengan menembakkan karet gelang ke diinding. Jepretttt….!!! maka dimulailah misi yang mustahil ini.

” Ingat, kita tidak saling kenal. Bersikaplah profesional. Doddy, jangan lupa untuk menjemput target satu jam lagi. yang lain siap di pos masing-masing!” perintah Yuni yang di kantor ini memang kekuasaannya atas diri kami tidak terbendung.

Kami pun bubar. Ipang ke kebun. Dian ke dapur. Doddy ke garasi. Yuni ke ruangannya. Dan aku ke toilet.

—————————————————————–

Setelah menurunkan Dian di depan gerbang kantor Yuni tadi, Aim memarkir mobilnya tak jauh dari TKP. Dengan sabar Aim menunggu perintah Yuni sambil mendengarkan lagu Seventeen yang mendayu-dayu dari tape mobil.

Kau jaga slalu hatimu

saat jauh dariku

tunggu aku kembali

ku mencintaimu slalu

menyayangimu sampai

akhir menutup mata…

 

jreng…jreng..jreengg…

kau jaga slalu kambingmu

saat jauh dariku…

tunggu aku kembaliii…

 

Aim terperanjat. Ada yang aneh dengan syair lagu tadi. Dia me-rewind kaset. Lalu terdengarlah reffrain itu.

Kau jaga slalu kambingmuu…

 

” Waahh, kapok gue beli kaset bajakan! Gak bener syairnya!”

Lalu Aim mematikan tape. Sesaat kemudian dia celingukan. Sejak tadi perasaannya tidak enak. Dia merasa sedang dibuntuti seseorang. Sejak di Kedawung, sebuah mobil Avanza hitam membuntutinya. Pengemudinya seorang lelaki berkepala botak dan berkacamata. Untuk memastikan dia dibuntuti., Aim menjalankan mobilnya. Tak disangka, Avanza itupun bergerak, mengikutinya dari jarak dua meter.

Aim kini yakin dia dibuntuti.

Aim berbelok ke arah jalan Wahidin,lalu berhenti di lampu merah, mobil itu ikut berhenti. Aim jalan terus lalu berbelok ke jalan Kartini,mobil itu ikut jalan. Mobil Aim kemudian belok masuk halaman pizza hut dan putar-putar dua puluh tujuh kali disana, mobil itu ikutan juga. Aim jalan lagi dan berbelok ke arah hero, mobil itu ngikut. Aim akhirnya masuk Ade Irma, mobil itu ikut juga. Aim kehilangan akal, di pintu gerbang Ade Irma dia ditagih karcis. Di langsung beli dua. Lalu mengacungkan karcis satunya ke arah si penguntit.

” Masuk aja! Udah aku bayarin!” Teriaknya. Sesaat kemudian dia menyesali perbuatannya. ” Damn! Gue lupa. Gue ingetnya lagi pergi ama temen! Aduh, gimana nih? Malah gue bayarin karcis masuk lagi!”

Mau tidak mau, Aim segera masuk arena Ade Irma. Rupanya sedang ada show Neneng Anjarwati. Untunglah. Aim segera keluar dari dalam mobil dan menyelinap di tengah keramaian. Tapi si Botak itu tampaknya tak berputus asa mengikuti jejaknya. Dia ikut menyelinap-nyelinap mengejar Aim di tengah keramaian penonton fanatik Neneng Anjarwati. Waah, penyanyi favorit Aim! Sejenak Aim tergoda ikut nonton, tapi rupanya situasi tidak mengijinkan. Si botak itu terus memepetnya. Aim berlari ke dermaga. Si Botak mengikuti. Sambil ngos-ngosan Aim menuju ujung dermaga. Lalu dia berhenti. Di depannya air laut bergelora. Si Botak cuma beberapa meter saja. Mereka berdiri berhadapan sekarang.

” Siapa kau?! Apa maumu? Dan siapa yang mengutusmu??” seru Aim dengan suara terbantai angin.

Si botak tak menjawab. Dia malah mengeluarkan sebilah senjata api. Aim pucat. Dia menengok sekelilingnya, hanya air dan tidak ada satupun orang yang bisa menolongnya. Aim kembali menyesal kenapa larinya ke ujung dermaga.

Senapan itu dikokang.

Aim kalap, lalu tanpa memperhitungkan apapun, hanya insting dan keberanian, si Ranger Cokelat berlari kencang menabrak si botak dan mendorongnya ke laut. Pistol di tangan si botak terlepas, mereka berdua berguling dan jatuh ke tengah laut. Beruntungnya Aim dan insting ranger cokelatnya, si botak tak bisa berenang rupanya, dengan cepat tubuhnya semakin tenggelam ke dasar laut. Si botak mencoba berpegangan pada Aim, tapi Aim menendangnya. Aim berusaha naik ke permukaan tapi kakinya kembali ditarik si botak. Aim menendang terus dan cekalan tangan si botak makin melemah, botakpun tenggelam. Aim nyaris kehabisan nafas dan tenaga. Tiba-tiba dia melihat sehelai benang pancing mendekatinya dan seketika tangannya menggapai.

Duapuluh meter diatas permukaan laut, seorang pria bertopi caping yang tengah memancing di atas perahu gembira luar biasa ketika pancingnya bergerak-gerak.

” Horeee…!! Dapet ikan gedee…!!” Dia bangkit dan sekuat tenaga menarik tali pancingnya, lalu dia berteriak kaget ketika yang muncul di ujung tali pancing adalah seorang pria yang sangat dikenalnya.

” Aim???!!”

Aim jatuh ke dasar perahu, nafasnya tersengal-sengal. Dia masih sadar, dan mengenali temannya yang menolong menariknya dari dasar laut.

” Adhe…!!!”

Adhe Jk melepas topi capingnya, terheran-heran, tak menyangka bakal dapat ikan segede gaban.

—————————————————————————-

Sebagai tukang kebun yang baik, Ipang mengawali karirnya dengan merambas semak belukar sarang ular di sisi utara gedung kantor. Dia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Seolah gajinya tigapuluh juta sebulan. Thingky bertengger di sebuah pohon. Sedang asik-asiknya tertidur pulas.

Ipang membiarkan Thingky tidur, karena si burung hantu pasti kecapean setelah semalam mendapat pelajaran mengirim surat bab ketiga belas. Dia sudah mulai pintar sekarang. Bisa membedakan Yuni dangan Dian, dan membedakan Nimas dengan Doddy. Sambil bernyanyi-nyanyi, Ipang memangkas rumput pake arit.

Kau datang padaku membawa luka lama

ku tak ingin salah semua seperti dulu

Tak ingin lagi rasanya ku bercinta setelah kurasa perih

kegagalan ini membuatku tak berdayaaaa…..

Tak dapat lagi rasanya ku tersenyum setelah kau tinggal peeeerrgiiii…

biarlah sendiri tanpa hadirmu kiiinniiii…kaaassiiihhh

 

saking menghayati, Ipang sampe sesenggukan mencucurkan airmatanya. Tapi dia terus menyabit rumput.

Nyanyinya makin keras

Tak ingin lagi rasanya kubercintaaa setelaah kurasa peeerriiihh….

Guk!Guk!Guk!!!

Tiba-tiba Ipang terdiam. Instingnya mengatakan adanya suatu bahaya.

Rupanya seekor anjing kampung tidak suka sama sekali pada suaranya, membenci konser tunggalnya, dan terganggu tidur siangnya. Anjing itupun menggonggong di belakang Ipang, hanya dua meter darinya. Ipang menoleh, dan seketika lututnya gemetar.

” hey, jack! sorry, Jack…” Ipang berusaha negosiasi. Tapi anjing itu rupanya tak mau berunding. Dia langsung mengeluarkan taringnya dan siap menerkam. Ipang lari tunggang langgang ke atas pohon. Si Anjing itu menggonggonginya di bawah.

” Hus! Sana, sana! Pergi…! Summum bukmun umyun fahuum laa yarji’uunn…” Ipang komat-kamit merapal do’a, tapi si anjing yang marah karena ketenangannya terganggu itu terus menggonggong, bahkan berusaha naik ke atas pohon, mencakar-cakar batang pohon.

” gawat! Thingky…bangun! banguun…!!” Ipang menggoyang-goyang Thingky yang teridur di sebelahnya. Tapi Thingky emang kebluk. Dia sama sekali tak mau di ganggu majikannya. ” dasar burung gak setia!!”

” Tolooong….!!!” Ipang berteriak ketakutan.

Saat itulah aku lewat di dekatnya. AKu melihat Ipang bergelantungan di pohon, kakinya hanya beberapa inci dari moncong si anjing. Dan sialnya, Ipang melihatku.

” Nimas! Nimaasss! Tolongin gue dooonk…!!”

Aku tak menoleh padanya dan tetap pura-pura mengelap jendela.

” NImaaaasss…..!!”

Aku masih mengelap jendela. Tiba-tiba Dian menghampiriku.

” Nimas! Itu si Ipang minta tolong!!” Serunya panik. ” Dia mau dimakan anjing!”

Aku tetap diam tak bergeming.

” Woy!” Dian menoyor kepalaku. “Kampret Lo!! ga denger gue ngomong?”

Aku terpaksa memperingatkan Dian. ” Sssttt! Kita kan tidak saling kenal, remember?”

” Tapi ini gawat! Liat tuh si Ipang! Dia pasti bentar lagi jatoh dari pohon karena ranting pohon nggak kuat menahan tubuhnya!!”

” Biar aja. KIta kan nggak kenal dia!”

Dian menamparku bolak-balik. ” sadar Bu! Dia temen kita! Bodo amat ama aturan! Ayo kita bantu dia!”

Tamparan Dian menciptakan efek blush on agak permanen di pipiku. Aku balas menjambak rambutnya ke belakang, memberikan efek jenong yang permanen di kepalanya. Kami pun saling cubit dan jambak. Sementara Ipang masih bergelantungan.

” STOP!” seru Dian sambil mengangkat tangan tanda menyerah. ” hentikan pertikaian!Kita harus bantu Ipang sekarang!”

” Gimana caranya, Oon?”

Kami sama-sama menoleh ke arah Ipang yang tengah terus berjuang naik lebih tinggi, tapi pohon kersen yang dipanjatnya cuma dua meter tingginya. Cabang yang jadi pegangannya rapuh, nyaris putus.

” Kita sambit aja anjingnya pake kerikil!” usul Dian.

” jangan! nanti anjingnya bisa ganti mengejar kita!” cegahku.

” kalau begitu, kita lempar pake batu-bata kepalanya biar dia langsung tewas!”

” Kita panggil pemadam kebakaran aja minta menurunkan Ipang,seperti di film Si Jago Merah!”

” Lama datangnya! Kita panggil Campred Ranger saja!”

” itu kan kita!”

” Oh, iya ya, lupa…Kita calling 911 !!”

kami terus berdiskusi,merencanakan sistem penyelamatan yang canggih, sementara anjing terus menggonggong dan Ipang terus berteriak histeris. ” Diaaannn…!! Nimaasss…!! help Meee…Helrpfh Miiii…..!!!”

Aku semakin cemas. ” Oke, jadi gimana nih keputusannya?”

” Kita lempar saja anjingnya dengan batu, suruh pergi biar Ipang bisa turun. kamu setuju Ranger Pink?!”

” Aku setuju Ranger Ungu!”

” Putih! Gue Ranger Putih sekarang!” Seru Dian bangga.

” Lhoo, terus Aim Ranger apa donk?!”

” Cokelat! Tadi kami sepakat tukeran.”

” Okelah kalo gitu, kita setuju untuk menyambit anjing dengan batu, apapun resikonya?”

” Sepakat!!!”

” Deal!!”

Kami bersalaman, lalu sama-sama mengambil batu bata. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara batang pohon berderak keras.

Kkkkrrrraaakkk…..Bruuugghhh…..!!!

Guk,gukgukgukguuukkk….!!

” Heeerrrllllppphhhhh…miiiiiihhhh….!!!” Suara Ipang melolong mengenaskan. Aku dan Dian terpaku di tempat dengan wajah pucat.

————–bersambung—————-

Nantikan aksi lainnya yang makin mendebarkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: