Opera Team CampRed Bag.4

Srek…sreekkk…srreeekkk..

Waah, lantai toilet bener-bener kinclong nih!

Sek…sekk…sekkk…swiiinngg…harumnya menyebar…

Lantai mengkilat, bisa ngaca, bahkan kita tak akan sadar saat menembus kedalam tanah.

Ada yang bersiul-siul di dekatku, sambil menyisir rambut didepan kaca. Rupanya Si Ranger merah, Doddy.

“Ngapain Lo disitu? dandan mulu!” tegurku jengkel melihat gayanya yang sok ganteng.

“Gue kan mau jemput tamu, tamunya kan cewek, makanya gue harus tampil prima! Siapa tau, cewe itu tertarik ama gue,” jawab Doddy santai.

“Apa,,,?!” Aku membanting tongkat pel. Bletak!! Tongkat itu kena kepala Ipang yang kebetulan lewat. Ipang langsung pingsan di pojok toilet. Tapi aku dan Doddy tak mempedulikannya.

“Kenapa sih Lo?” tanya Doddy . “sampe segitunya? Gak boleh apa kalo gue ada yang suka?”

“Heeh, bodo amaaat! Biar kata Arumi Bachsin naksir lo, gue sih iklas-iklas aja. Tapi jangan cewe yang mau lo jemput ituuu! Jangan sampe lo naksir si Jihan! Sadar Dod, sadaaar! Dia musuh kita! Bisa hilang obyektifitas kita kalo ada hubungan asmara sama dia! Musuh Dod, musuuuh…!!”

Doddy menepuk jidatnya. “Astaghfirloh al-adziiim…! Gue lupa! Thanks yah udah ngingetin, lo kan tau, gue idola para cewek. Resiko orang gantenglah. Tapi kalo sampe Jihan naksir gue gimana?”

“Ya makanya lo jangan dandan mulu! Acak-acakin deh rambut lo, pasang tampang norak dan kampungan! Si Jihan pasti gak tertarik ama sopir kayak lo!”

Doddy mematut wajahnya lagi di cermin. Lalu mengacak rambut kebanggaannya. Lalu dipakainya peci warisan bapaknya. Memang sekarang dia lebih keliatan kampungan, kita akan malu kalo ngaku temennya. “Gimana?”

“Siip. That’s better!” Aku mengacungkan kedua jempol.

“Oke, kalo gitu, aku cabut dulu ya…Do’akan aku berhasil!” Doddy segera berbalik hendak keluar toilet, tapi dilihatnya Ipang yang tersuruk di sudut dekat pintu. “Kenapa si Ipang? Jam seginii udah tidur?”

“Mana gue tau, tadi dia manjat pohon mau digigit anjing, sekarang tidur. Biar nanti gue bangunin…”

Doddy segera berlalu dari toilet room. Aku menghampiri Ipang, tapi tiba-tiba seorang perempuan masuk toilet dengan memakai sandal yang ngujubile kotornya! Lantai yang semula kinclong jadi ternoda oleh lumpur di sandalnya.

Akupun, si penguasa toilet, murka.

Perempuan itu masuk bilik kamar mandi, lalu terdengar air mengucur. Tak lama kemudian, setelah dia keluar lagi, aku menghampirinya.Penuh amarah.

Maaf, Bu! Dari tadi saya perhatiin, Ibu bolak-balik aja dengan sendal yang kotor ke dalam toilet. NGapain sih Bu?” tanyaku sambil bersidekap sinis.

Perempuan itu menatapku tak suka. “Cari brokoli!”

“Apa?? Cari brokoli??”

“Ya pipislaah…masa belanja! Anda tuh aneh-aneh aja!”

“Maksud saya gini,Bu, Ibu bolak-balik selalu pake sandal kotor. Nggak liat apa nih toilet baru saya pel sampe kinclong dan wangi? Kenapa ibu tega selalu mengotorinya kembali? Apa Ibu tidak tau undang-undang memakai toilet?”

Si Ibu menatapku heran. “Emang ada?”

“Rancangannya sudah saya buat, Bu! Jadi, barang siapa yang dengan sengaja mengotori toilet ini, akan dikenai sanksi hukum! Mengerti?!” Aku melotot padanya.

Si Ibu mengagguk ketakutan. Kemudian buru-buru hengkang dari toilet sambil menenteng sandalnya. Di pintu dia berpapasan sama Yuni. Yuni mengangguk hormat padanya, lalu berbisik padaku.

“Kenapa lo? Tadi gue denger lo marah-marah?”

“Tuuh, temen lo tuh, kagak tau aturan! Keluar masuk toilet seenaknya aja, pake sendal kotor lagi! Yaudah aja gue tegur dia, takut dia, takuuut!” aku memberi isyarat cemen dengan jempol terbalik.

Yuni tiba-tiba menggeplak kepalaku. Aku mengaduh.

“Aww!! Kenapa sih lo galak begini?”

Yuni melotot sambil berbisik gemas. “Itu tadi kasubag keuangan, begooo!! Apa lo mau kita semua nggak digaji??”

“Haa…?” Aku melongo, lalu reaksiku selanjutnya adalah gemetar. “Aduuh, Yuun, gimana nih? Kalo aku nggak digaji, trus bagaimana nasib anak-anak di rumah? Bagaimana dengan tagihan listrik, ledeng, telepon, kreditan panci, dan iuran RT? Kenapa lo gak bilang dari tadi sih?”

“Kamu juga sih! makanya liat-liat dulu kalo mau nyemprot orang!”

“Kita harus minta maaf Yun, gimana kalo aku dipecat???”

“Ehem!!!” tiba-tiba terdengar suara dehem di pojokan. Kami berdua serentak melihat ke sumber suara. Ternyata Ipang, masih tergolek manis di dekat pintu, kepalanya benjol, tangannya memar, kakinya luka kena gigit anjing, dan suaranya berubah serak-serak becek.Dia pasti sangat menderita.

“Ada apa, pang?” tanya Yuni heran. “Ngapain kamu disitu?”

“Kalian meributkan apa sih?” Ipang bales nanya.

“Kita bakal dipecat, Pang! Kita gak bakal digaji bulan ini!” seruku panik.

Ipang tertawa getir, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hello..? Earth calling Nimas and Yuni…! BUkankah kita disini memang bukan karyawan asli? Kita hanya para Rangers yang ditugaskan oleh Boss selama semingu disini, Ingat kalian, haaah?? Jadi siapa yang mau mecat? Siapa yang mau ngegaji bulanan??”

O-oow…! Aku menepuk jidat seperti yang tadi Doddy lakukan.

Yuni menghampiri Ipang. “kamu benar juga, Mang. Ayo sini bangun, kayaknya lukamu cukup parah.”

Ipang mencoba bergerak, ngesot-ngesot mendekati Yuni. Aku berjongkok didekatnya, lalu memeriksa lukanya. “Pang, mendingan lo istirahat dulu deh. Ntar gue antar lo ke UKS.”

“UKS? Lo pikir ini sekolah apa?” sela Yuni.

“Disini namanya apa sih? Puskesmas?”

“Medical centre..”

“Oke, ayo bangun, kita ke medical centre!” Aku menyeret Ipang dan memapahnya keluar toilet.

Yuni menghela nafas lega. “Untunglah disini kita bukan karyawan sungguhan..Kita gak bakal dipecat…”

Tiba-tiba Ipang menoleh ke arah Yuni. “Helloo.?? Yun…Lo lupa? Kalo elu kan emang karyawan sungguhan disini, Mboook!”

“Owh! Astaghfirlohaladziim…!” Yuni ,menepuk jidatnya, persis seperti yang dilakukan aku dan Doddy.

——————————————————————

Medical centre di kantor Yuni adalah ruangan bercat putih dengan luas empat kali empat meter. Diisi sebuah tempat tidur, lemari obat, sebuah meja dan kursi dokter. Dokternya perempuan, berambut pendek, dengan senyum ramah. Dari papan nama di atas meja, ku tahu namanya Dr. Fris.

“haloo??” Sapa Dr. Fris ramah.

AKu segera meletakan Ipang ke atas tempat tidur. “Silakan periksa, dok. Keliatannya parah.”

“Wah, ini kasus luar biasa…” Dokter Fris menatapku prihatin. “Sebenarnya ada klinik khusus untuk penderita HIV Aids, tapi tak apalah, untuk sementara biar saya periksa dulu.”

Aku terkejut. “HIV Dok? Nggak kok,Dok! Dia cuma kena gigitan anjing! Siapa tau rabies?”

Ipang mendadak kaku di tempat tidur. Matanya membelalak ngeri. gejalanya sudah tampak seperti rabies.

Dr. Fris menggeleng-gelengkan kepalanya. “memang parah sekali. Siapa keluarganya disini?”

“Tidak ada, Dokter…Dia sebatang kara…” Aku tertunduk sedih.

“Aku turut prihatin. Biar aku beri suntikan penenang saja dulu ya, aku lihat hidupnya memang tidak tenang, seperti ada kecenderungan bunuh diri…” lalu dia menghampiri lemari obat, mengambil suntikan. Sebelum memilih botol obat, dokter Fris menoleh pada Ipang. ” Bapak boleh pilih, mau dikasih obat tidur yang untuk tidur satu jam, atau yang lima jam, atau yang satu hari? Mau yang mana?”

Ipang bengong, lalu menatapku, lalu ganti menatap Fris. Aku segera membantunya. “Pilih aja yang kira-kira bisa membuatmu tenang.”

“Satu jam saja Dok!” seru Ipang keras, dengan suara serak tercekik.

Dokter Fris meraih sebuah botol. Disuntikannya obat dari dalam botol ke dalam jarum suntik. Lalu dia menghampiri Ipang, dan menyodorkan jarum suntik. “Saya suntikkan di lengan ya Pak…Ya ampuun! Lengan bapak panjang sekali..!”

“Dok,” tegurku sabar. ” Itu kakinya!”

“Oh, sorry!”

Setelah urusan suntik menyuntik beres, dokter Fris meniup ujung jarum suntiknya, persis gaya koboi meniup pistol yang baru saja ditembakkan. lalu dia duduk di mejanya dan menulis resep. Aku kagum pada gayanya.

“Dokter memang hebat. Saya menyesal dulu nggak ngambil jurusan biologi aja biar bisa jadi dokter,” ujarku kagum.

“Memangnya dulu ngambil apa?” tanya dokter sambil nulis resep.

“Sosial, dok!”

“Sama donk!”

Aku terperanjat. ” Sam..samaa..?? Kok bisa sih? Kenapa dari sosial bisa jadi dokter???”

“Siapa yang dokter??”

” lah ini…ada tulisannya, dokter Fris! Anda dokter kan?” serbuku sambil menunjuk papan namanya di atas meja.

Dengan tenang Fris meraih papan nama itu, lalu memperlihatkan hurup-hurup lain dibelakang hurup S yang tidak tampak karena catnya sudah mengelupas. papan itu jadi berbunyi : Dr. Fristian.

“Dokter asli sini, dokter Fristian. Kalo aku, aku cuma agen yang menyamar. Aku salah satu dari kalian! Aku Ranger abu-abu! Surpraaiiiss!!!” serunya dengan nada penuh kegembiraan.

Aku masih terpana, tak percaya. “laluu, obat tidur yang kau suntikkan itu?” Aku menoleh pada Ipang dengan takut-takut. Bagaimana kalau cewe ini salah masukin obat?

“Itu cuma vitamin dosis sangat kecil, aku diajarin dokter Fristian cara memakainya, tenang saja, tak berbahaya. Efeknya hanya sering merasa lapar.”

“I Know…!” Tiba-tiba aku dan Fris mendengar suara serak Ipang dari atas pembaringan. Kami menoleh menatapnya. Matanya manampakkan rasa lapar yang luar biasa.

——————————————————–

Aim menyeruput kopi yang dihidangkan Adhe di pondoknya, di sebuah tempat tersembunyi di suatu desa.

“Jadi kamu kabur kesini karena dikejar-kejar seorang wanita? Ckckck…” Aim menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Yah, resiko jadi orang ganteng. Aku mematahkan hati ribuan wanita, dan membuat mereka mengejar-ngejarku disini. Kadang-kadang aku harus menyamar jadi nelayan, atau petani, agar aku selamat dari kejaran mereka.”

Tiba-tiba sebuah ide melesat di kepala Aim.  Dia memang mendadak cerdas kalau sudah minum kopi. Apalagi kopi bulus yang diminum tiap malam Jum’at sekali.

“Aha! Aku ada ide!”

Adhe terkejut, sampai hampir tersedak karena saat itu dia juga sedang menikmati kopi bulusnya.

“kenapa sih, Im?”

“Aku punya ide, gimana caranya menggulung kawanan si Jihan. Kita cari titik lemahnya sebagai wanita. dan kelemahan seorang wanita adalah..Pria tampan!”

“Pria tampan pesepakbola! Beri dia Irfan Bachdim!”

“Kenapa larinya ke Irfan Bachdim?”

“Daripada ke Irfan Hakim? Atau ke Rakhmat Irfan Januardy?”

Aim menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dengar ya Sob, nyawa gue terancam. teman-teman kita juga para campred terancam, karena gue yakin, kejadian dengan si Botak tadi adalah indikasi bahwa operasi kita bocor! Kita butuh pengalihan, dan harapan satu-satunya adalah kau, sobat!”

Adhe terkejut, gelasnya hampir terjatuh. “Aku???”

“Ya, kau! Si Playboy penakluk hati wanita! kaulah yang paling pantas dengan tugas ini! Beri harapan pada si Jihan, tumbuhkan cinta lokasi, lalu buat dia patah hati!”

“kalau dia mengejarku juga gimana???”

“itu bagus! Tugasmu akan lebih mudah!”

Adhe tampak ragu-ragu. “Kalau dia… hamil?”

“Bawa aja ke dok…Appaa??? Ya jangan donk! Kira-kira De! jangan sampe gara-gara kopi bulus lo jadi lupa diri!”Aim mencak-mencak.

Adhe menggerutu. “Itu kan cuma perumpamaan, probability..”

“Oke, pokoknya, kita harus buat strategy jitu agar Jihan klepek-klepek sama kamu!”

Mereka berdua kemudian kembali berunding serius sambil menghabiskan bergelas-gelas kopi bulus.

———————————————————

“Selamat siang Ibu-Ibu, Bapak-Bapak…” Dian, si koki centil berbaju putih dengan celemek dan topi tinggi, tiba-tiba muncul di ruangan Yuni sambil membawa daftar menu.

Yuni yang sibuk mengetik jadi mengangkat wajah. Dian tampak membagi-bagikan selebaran daftar menu pada semua karyawan.

“Ini menu makan siang Anda, silakan dipilih yaa…Ada sop kaki kambing,soto madura, iga bakar, sate ayam, nasi goreng spesial, dan maaassiiihhh banyak lagi dari Dian catering! Silakann…”

Yuni kalang kabut. Dia langsung bangkit dan menyeret Dian keluar ruangan. Dian yang lagi asik membagi-bagikan menu jadi terpekik. “Aduh! napa sih Bu?”

“Lo apa-apaan sih?”

Dian membenahi celemeknya yang miring. “Ibu yang kenapa? Kenal juga nggak, maen tarik-tarik aja!” Serunya dengan  suara dikenceng-kencengin.

“Saya Yuni! Udah gak usah pura-pura!” desis Yuni.

“Bohong! Siapa tau cuma nyamar! Sebutkan kata sandi!”

Mata Yuni menerawang. “Kata Sandi? yaah, dulu…dia sih pernah bilang kalau dia memang senang berada didekatku. ” wajah Yuni mendadak merah, lalu dia senyum-senyum sendiri. “Entah apa yang kami rasakan saat itu…”

Dian menoyor kepala Yuni. “Kata sandi! password! ID, bego! Bukan sandy yang ntuuu….”

Yuni tergeragap, sadar dari lamunannya. “Oh, maksud lo Campred, Berubah?!”

“Ulang!”

“Campred Brubah!!”

“dan kau Ranger apa?”

“Kuning! Kau?”

“Putih! Tadinya ungu, lalu tukeran, sekarang putih. cukup penjelasannya!”

Yuni mengangguk, lalu dia ingat pada tujuan awalnya, memperingatkan Dian. “kamu tau, kantor ini sedang mengirit anggaran. Kita tidak punya anggaran untuk makan siang karyawan yang beraneka menu. Cukup beri mereka nasi kotak saja. Mengerti? Dan siapkan saja makan siang untuk tamu istimewa kita!”

Dian cemberut. Lalu menghela nafas. dengan gontai dia kembali ke ruangan, dan menarik kembali daftar menunya dari tangan semua karyawan.

“Baiklah, Ibu-Ibu, maaf sekali ya, menunya batal. Semua akan mendapat nasi kotak yang sama. Tapi tenang aja, saya masih punya menu andalan lain. Ada yang mau kopi bulus?”

——————————————————-

Perempuan berkacamata itu berdiri di dekat pintu stasiun. Tak ada yang menyertainya. Hanya seorang lelaki botak berkacamata yang berdiri tak jauh darinya.

Tunggu….Bukankah lelaki botak itu sudah tenggelam? (Maaf, penulis rupanya tak tega menampilkan adegan kekerasan, apalagi pembunuhan. Jadi entah bagaimana caranya, si Botak selamat. Kalo diceritain juga terlalu panjang dan gak penting. Konon dia diselamatkan ibu-ibu pencari remis.)

“Bodoh sekali! mengurus satu orang saja tak becus!” desis si wanita berkacamata.

Si Botak menunduk. “Maafkan saya, Bos!”

“Sekarang saya ingin memulai tugas yang baru. Sebaiknya jaga agar target senantiasa terkepung. Jika tidak, hilang kepercayaanku padamu!”

” Siap, Boss!”

” Ada satu hal yang harus kulakukan padamu!”

Si wanita berkacamata lalu mendekati si Botak, tangannya meraih pistol laser otomastis dari balik jaketnya. Begitu dekat dengan si Botak, ditempelkannya pistol itu ke dada si botak, dan pistol itupun meletus tanpa suara.

Si botak roboh seperti terkena serangan jantung. Si Wanita melenggang pergi seolah tak terjadi apa-apa.

Mati juga ternyata si botak, gimana sih penulis kita tuh? Katanya anti kekerasan, yang ini malah lebih sadis! Aneh. Makanya, jangan percaya sama penulis! Percaya sama Tuhan saja!

——————————————-

Uyi menemukan fakta yang sangat menarik tentang Jihan Maemunah. Dia segera membuka jendela chatting dan menyapa Airin yang sedang Online.

Uyi : target ternyata bukan orang malaysia!

Airin : Ah, masa?

Uyi : betul! Aku akan mengirimkan data-datanya melalui e-mail.

Airin : Aku tunggu. Nanti aku cari kelemahannya.

Uyi : Dia kelahiran Bandung, tapi sempat sekolah di KL, dan dia bekerja di salah satu instansi pemerintah yang bergerak di bidang kebudayaan. Dengan alasan budaya itulah instansinya mengirimnya kemari.

Airin : Kita harus beritahu team campred yang di TKP! Sudah kau kirim e-mailnya?

Uyi : Belum! Loadingnya lama…

Brett!! Tiba-tiba monitor komputer Uyi mati.

“Damn! Kalo lagi diburu-buru pasti begini! Warnet apaan ini?? Dikit-dikit kena virus!” omelnya sambil menggedor-gedor papan sekat tanda protes pada si pemilik warnet.

Si penghuni sekat sebelahnya jelas terganggu. Wajahnya menyembul, melotot pada Uyi. “Yi! jangan berisik donk! Gue lagi chatting ama dubes Timor Leste nih! kenapa sih lo?”

“Komputer gue tau-tau mati, Rin! Gue kan lagi coba ngirim e-mail ke elo!”

Airin beranjak dari biliknya. “Ya udah lo pake komputer gue dulu, nanti gue mau ke operator warnet, mau protes!”

————————————————————-

Tamu istimewa itu datang juga.

Mobil kijang yang dikendarai Doddy dengan mulus masuk ke halaman . Dadaku mendadak berdebar tak karuan. target kami datang. Aku berhenti mengelap kaca jendela, mataku terpancang lurus pada mobil kijang Doddy.

Di dalam ruangannya, Yuni berhenti mengetik, lalu berdiri menghampiri jendela, menatap ke halaman tempat kijang itu berhenti. Nafasnya tertahan.

Ipang yang baru saja berjalan meninggalkan medical centre, dengan langkah slow motion, mendadak terhenti. Dari bawah pohon kersen, dia melihat mobil kijang Doddy. Dan sesosok wanita turun dari dalam mobil.

Di dapur, Dian asyik membuat kopi bulus, tak terganggu.

Di medical centre, Fris sedang mempelajari botol-botol obat bius yang sesungguhnya. Juga tak terganggu.

Kembali ke tempatku, aku terpaku melihat sesosok wanita yang baru saja turun dari mobil itu. Dialah Jihan Maemunah. tubuhnya tak lebih tinggi dari aku, dia juga berjilbab, dan dia tersenyum ramah ke segala penjuru.

————Bersambung——————

benarkah wanita itu Jihan Maemunah? bagaimanakah kisah selanjutnya? Ikuti terus, OPERA TEAM CampRed….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: