Kegelisahan kita, bahwa ada sesuatu terjadi… Bag 1

Kali ini aku benar-benar marah…”

Kutatap sms dari Dika, tak percaya. Kalau ada petasan air mancur yang dibunyikan bukan di malam tahun baru, mungkin tidak menimbulkan efek kaget seperti sekarang. Tapi sms ini membuatku benar-benar kaget melebihi bunyi petasan manapun. Aku segera bergerak cepat, mengirim sms panik yang berbunyi pertanyaan-pertanyaan, mengapa?-apa-yang-membuatmu-marah?

Dua puluh menit berlalu dan tak ada lagi balasan darinya. Aku melempar handphone dan menyambar handuk.

“Mau kemana?” seru Tia sambil menyambar tanganku.

“Mandi! Aku harus ketemu Dika dan mendengar semua penjelasannya!”

” Buat apa???” Tia melotot. Sungguh-sungguh melotot karena dia mengerahkan segenap kemampuan matanya untuk melotot ke arahku.

“Buat membersihkan tubuhku, Monyooong! Aku kan belum mandi!”

“Bukan mandinya, Monyooong! Buat apa menemui Dika? Untuk menerima penjelasannya tentang sms dia tadi?!”

Aku mengkeret. Tia selalu tahu isi kepalaku, dia pasti separuh cenayang.

“Nisa! Apa yang menyumbat otakmu akhir-akhir ini? Sumbatan itu membuatmu melupakan satu detil penting!” Tia berkata sambil mengatupkan bibir rapat-rapat.

“Apa itu, kalau boleh tau?”

“Dika sudah menikah, Nisa! Sudah punya anak! Belum cukup dengan detail itu? Ada satu detail lagi. Kamu. Juga. Akan. Menikah.”

Bahuku melorot dan handukku jatuh ke lantai. Semangatku baru saja disapu tornado maha dahsyat.

“Ya, ya, ya…aku mengerti Tia…Tidak seperti yang kamu kira…Aku tau dia punya keluarga, aku juga mencintai Reza dan kami akan menikah dua minggu lagi…Aku tau itu…”

Tia menatapku, kalau boleh kukatakan, tatapannya sangat memuakkan karena mengandung belas kasihan.  “Lalu bagian mananya yang belum jelas? Apa karena dia mengirim sms bahwa dia marah setelah kamu beritahu dia bahwa kamu akan menikah, lalu tiba-tiba misteri terpecahkan? Apa gunanya semua itu, Anisa Aprilia? Apa efeknya buat hidupmu? Dia toh tidak akan menjual jiwanya pada setan demi mendapatkanmu!”

Apakah dunia memang kejam, atau yang kuhadapi ini perempuan keji berlidah tajam? Aku ingin sekali menenggelamkan diri saat ini juga, membebaskan diri dari kerajaan anarkhi Tia. Tapi dia benar, itu kuakui dari lubuk hatiku yang paling jujur, yang tak kenal rasa gengsi.

Apa yang kuharapkan ? Ini toh tidak akan berarti apa-apa…Tidak akan berakibat apapun, tidak akan merubah arah angin, tidak akan mempercepat jalannya waktu, bahkan tidak akan membuat Cirebon berubah menjadi ibukota Propinsi. Dika boleh saja bilang apapun, tapi pertujukan tetap berjalan, bagai pepatah lama anjing menggonggong kafilah berlalu. Aku hanya perlu berlalu, berlalu, berharap berubah jadi debu.

Lalu aku kembali menyambar handuk. Dan Tia kembali menyambar tanganku.

“Mau kemana?! Tetap menemui Dika?!”

Gantian aku yang melotot.

“Mau mandi….!! Masa gak boleh???”

————————————————————————–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: