Mari Menulis : Kelahiran Sebuah Ide

Banyak orang bilang, menulis itu gampang. Jangan terlalu percaya deh,pendapat itu ada benernya dan ada juga salahnya. Benernya, ya kalo sekedar nulis-nulis sih gampang. Ada kertas, atau whiteboard, atau bahkan tembok, plus ada pinsil, atau pulpen, atau boardmarker, tinggal coret-coret. Buat yang udah hapal abjad dan bisa nyusun kata, pasti bisa. Anak lima tahun aja bisa kok kalo dia udah belajar baca-tulis. Itulah kenapa menulis disebut gampang.

Lalu salahnya dimana?

Salahnya itu, kalau statement tadi diperuntukkan bagi orang yang pengen bener-bener bisa nulis. Dalam arti, nulis buku, artikel, fiksi, karya ilmiah, de el el. Karena tidak semuanya bisa ditulis dengan cukup mudah. Artinya, belum tentu sembarang orang bisa menulis dan menuangkan ide yang ada di kepalanya. Perlu belajar, berlatih, menstimulaswi otak dan mencari pengalaman. Paling tidak, begitulah yang dilakukan banyak penulis ternama. Nggak semuanya menulis segampang mencoret wall facebook.

Nah, ini yang banyaaakk banget dipertanyakan orang. Gimana sih supaya kita bisa menulis dengan gampang?

Ahh, jangan gitu deh pertanyaannya. Menulis dengan gampang akan berkonotasi menulis ‘lancar’, lebih mengarah ke tekhnik. Jadi pertanyaan yang bagus itu gini : Bagaimana supaya kita bisa menulis dengan baik?

Baik disini, artinya tulisan kita berbobot, bermutu, mudah dicerna, up to date, dan bermanfaat serta menimbulkan kesan mendalam bagi pembaca sebelum, selagi, dan sesudah membaca tulisan kita.

Banyak teman yang minta dibagi tips menulis dengan baik dan benar, karena banyak diantara teman-teman yang berbakat dan berminat jadi penulis, hanya saja tidak tau bagaimana memulainya. Disini sebagai sesama penulis pemula, saya coba bantu ya…bantu saya yaa…prok,prok,proook,,,jadi apaaa….! (yeee…malah sulap!)

Disini saya tidak akan membantu memotivasi teman-teman yang pengen jadi penulis, karena tulisan ini cuma untuk teman yang sudah siap jadi penulis saja. Pelatihan-pelatihan motivasi menulis buat saya buang-buang waktu aja. Mendingan pelatihan motivasi hidup untuk orang-orang depresi. Karena motivasi dengan obsesi itu beda lho. Saya sendiri lebih suka penulis yang terobsesi daripada yang termotivasi. Obsessi adalah dorongan dari dalam diri sendiri, sementara motivasi adalah dorongan dari luar. Anda pikir sendiri, mana yang lebih kuat? Apakah Anda berpikir Mark Zuckerberg itu bisa kaya raya setelah mendirikan facebook karena motivasi orang lain? Bukan…Itu karena obsesi! Sekali lagi, tanyakan pada diri anda, apakah ada obsesi untuk menjadi seorang penulis? Kalau ada, bagus, teruskan membaca, dan kalau tidak, go away, ngapain bengong aja disitu?!!Mendingan bantu Emak nyuci piring!!!@#$@#**^^&%$!!!

Astaghfirlohaladziimm…kenapa saya jadi marah-marah gini…? Okelah, anyway, semua tergantung niat masing-masing ya…kembali ke topik kita…Tips menulis…dan kelahiran sebuah ide. Disini saya akan coba berbagi tips yang juga saya dapatkan dari guru-guru saya di dunia tulis menulis. Walaupun mereka belum tentu mengakui saya sebagai murid.

Begini teman,

Pertama yang perlu banget kita miliki sebelum memulai sebuah tulisan adalah adanya IDE. You know, IDE!

I-D-E

Idea.

Yaiyalahh, kita mesti tau dulu idenya apa sebelum kita memulai menulis.  Mana mungkin kita nulis begitu aja tanpa tau apa yang harus kita tulis. Mana mungkin kita menulis tanpa adanya IDE. Nah, disini masalahnya…kita suka kesulitan nyari ide. Bener gak?

Nah, yuk kita pelajari apa yang dilakukan para ahli untuk mendapatkan ide. Apa pendapat mereka?

Menurut Ayu Utami, penulis novel Saman, Larung, dan Bilangan Fu :

Ide adalah ibarat keping-keping lego atau puzel. Kumpulkanlah yang kira-kira bisa saling dipasangkan. Setelah ada beberapa keping, coba susun. Setelah mulai tersusun, biasanya kita bisa menyadari bagian mana yang belum lengkap. Lengkapilah agar menjadi utuh. Prosa yang utuh biasanya memiliki tiga bagian: pembuka, isi, dan penutup.

Pembuka seharusnya cukup pendek untuk menjelaskan ke mana cerita kira-kira berjalan. Dalam film, sepuluh menit pertama harus sudah bercerita tentang masalah utama kisah itu. Isi harus lebih panjang daripada pembuka dan penutup, dan harus bergerak menuju klimaks. Penutup menjelaskan penyelesaian konflik-konflik yang ada dalam isi. Biasanya ringkas.

Cerita pop yang standar seperti makanan. Pembukanya segar-gurih agar kita ingin melanjutkan menu berikutnya. Santapan utamanya harus nikmat dan berisi agar kita kenyang. Penutupnya manis. Bisa juga manis dan pahit sekaligus, seperti sepotong tiramizu dan secangkir espresso.

Lainnya yang perlu dicatat adalah, Ide cerita boleh apa saja. Tapi, sebuah cerita yang menarik harus memiliki satu hal ini: ketegangan atau suspens.

Menurut Salman Aristo, penulis skenario film Garuda Di Dadaku, Jomblo, Brownies, Ayat-Ayat Cinta, Hari Untuk Amanda,  dll :

Ide itu seperti (maaf kata nih) orang bercinta. Asal di gosok terus, maka akan keluar atau klimaks. 😛

Maksudnya adalah, ide itu harus kita stimulasi dari diri kita, dari kepala kita, otak kita, benak kita, jadi dalam kamus mas Aris (panggilan sayang Salman Aristo) gak ada cerita tuh ide itu nunggu datang dari luar. Misalnya berjam-jam nongkrong di toilet sambil ngelamun nunggu ide datang. Think, think, think, ngelamun boleh, nunggu ilham boleh, dengan catatan, bukan nunggu ngarep kosong lho, gak bakalan sampe kapanpun bisa dapet ide. Kita melihat sesuatu, mendengar sesuatu, lalu berpikir, gosok terus, gali terus apa yang bisa kita jadikan ide, stimulasi terus, temukan sesuatu sampe kita tau mau kita apakan temuan kita itu.

Menggabungkan dua pendapat tadi, kita bisa memulai menemukan sebuah ide dengan mengamati sekitar kita.  Sekecil apapun hal yang terlintas di pikiran kita saat melihat atau mendengar sesuatu, segeralah catat dalam hati, lalu kembangkan menjadi sebuah ide. Susun potongan-potongan puzzle-nya secara berurutan dan cari kepingan yang hilang, agar menjadi sebuah kerangka cerita yang utuh. Kita susun apa bagian awalnya, mana bagian tengahnya dan bagaimana bagian akhirnya. Maka lengkaplah sudah ide itu.

Nah, cobalah sekarang…cobalah..coba…Try, try, try…never stop trying…

Sudah dapat…?

Selamat, Anda masuk level berikutnya!

PS : Ingat, jangan sembarangan ngumbar ide, bisi dibajak orang! Tau gak apa yang bikin sebuah karya itu mahal? Apanya yang mahal? Ya betul…IDEnya!

~Nantikan tips menulis lainnya~

4 responses to this post.

  1. Posted by Sophie on May 13, 2011 at 4:52 pm

    Wah boljug bu…makasi yaa pencerahannya….pas banget nih sm aq yg takjub sm para penulis besar n pengen kyk mereka atau kmu…dari dulu sampe skrg sih baru tahap gila baca buku,emang ga gampang koq menulis baik…susahhh

    Reply

  2. Sip…awalnya emnag dari membaca…baca aja yang banyak, pasti nulis akan bisa dengan sendirinya, asal ada kemauan!

    Reply

  3. ide ibarat keping-keping puzel. lalu kita susun hingga menjadi satu kesatuan yang utuh. tapi, bagaimana bila keping-keping puzel itu telah habis, sementara masih ada lubang yang harus diisi. misalnya, butuh dua atau tiga keping lagi?

    Reply

    • berarti kep[ingan itu belum utuh, belum menjadi sebuah bangun, harus terus dicari, karena tak mungkin tidak ada, tapi mungkin saja belum ditemukan.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: