Diary Annie: Give me the kos-kosan…!

Mama bener-bener menentang keinginan gue untuk tinggal di kos-kosan. Padahal, niat ngekos itu sangatlah penting untuk menjamin masa depan gue yang lebih sehat dibanding kalo gue masih tinggal satu atap dengan ortu dan adik-adik gue. Gue harus cari akal supaya Mama mau ngijinin gue.

Nah, oleh karena itu, selama tiga hari berturut-turut gue berusaha ngabisin makanan sebanyak mungkin, kalo perlu gue ngabisin tiga perempat nasi di magic com dan mengambil lauk pauk tiga porsi lebih banyak. Makanan itu sebagian gue makan dan sebagian lagi gue transfer ke Vera yang dengan senang hati mau menampung. Hasilnya?

“Masak apa hari ini Mah?” tanya Papa pas jam istirahat kantor pulang buat makan siang. Papa emang biasa makan siang di rumah biar ngirit. Juga lebih sehat dan lebih ngehargai istri, gitu alasan papa.

“Ada cumi goreng tepung sama sayur lodeh dan tempe bacem, Pah,” jawab Mama bangga sambil membukakan tudung saji. Lalu…

“Mana, Mah? Kok abis semua? Tinggal tempe bacemnya doang?”

Mama langsung shock. Saat itulah gue muncul dengan tampang sengaja disetting seolah kekenyangan.

“Eh, nasi ama lauknya abis ya Pah? Aduuh, maaf, itu tadi Annie yang ngabisin…abis laper bangeeet…Annie emang lagi doyan makan,siiih…”

“Ani!” bentak Mama. “Sejak kapan kamu makan kayak kuli gitu?”

“Sejak Annie mulai memasuki umur dua puluh satu tahun, Mah…” gue meringis tanpa dosa. “Hormon Annie jadi gak beres Mah, maunya makaaaaan mulu. Makanya Mah, ijinkanlah Annie ngekos, supaya makanan di sini aman, dan berasnya gak cepet abis, Mah..”

“Tapi harusnya sebelum ngabisin makanan kamu inget dong siapa yang belum makan!”

“Annie khilaf, Mah…”

“Sudahlah Mah, biarin aja,” lerai Papa. “Ani kan sedang dalam masa pertumbuhan, jadi kita biarin aja dia makan banyak. Mulai besok Mama harus masak dua kali lebih banyak dari yang biasa. Anak-anak perlu gizi cukup, Mah. Tenang aja, uang belanja nanti Papa tambahin.”

Apaaa? Gue langsung lemes denger omongan Papa.

Mama menghela napas. “Yaudah deh, tapi sekarang Papa gimana makannya?”

“Kita makan di warung padang depan komplek aja Mah, sekali-sekali kan nggak apa-apa..”

Mama langsung berseri-seri, melompat kaya anak kecil sambil ngelemparin serbet ke kepala gue, terus gandengan sama Papa keluar rumah. Gue cuma bisa melongo. Urusan kosan gue gimana?

Segala cara udah gue tempuh buat bikin Mama ilfeel dan ngusir gue dari rumah, tapi semuanya gagal! Gue mulai butuh bantuan Vera sekarang. Makanya, pagi-pagi banget gue udah ke rumah Vera di seberang kali.

Sejak bayi Vera tinggal sama nenek dan kakeknya yang pensiunan guru. Neneknya sudah meninggal, jadi tinggal kakeknya sekarang. Ortu Vera tinggal di Pemalang, daerah asalnya. Vera itu punya kembaran, namanya Veri. Nah, ketidakadilan rupanya juga menimpa hidupnya. Veri yang namanya senormal nama lelaki, tinggal ama ortu mereka yang kaya raya. Bokap mereka pemilik armada truk. Vera dipisahkan ke kakeknya yang jadi guru di Jakarta, karena menurut kepercayaan mereka anak kembar harus dipisahkan supaya nggak gampang sakit. Kenapa coba nasib seperti itu menimpa Vera. Kenapa dia yang terpilih?

Suatu kali, Veri pernah datang ke Jakarta dan dikenalin ke gue. Tau gak, ternyata, dari segi tampang aja mereka beda banget. Veri gantengnya luar biasa! Sementara, tau sendiri, tampang Vera malah rusak berat. Ini yang bikin gue tambah susah memahami hidup.

“Ver! Veraaa…! Keluar lo Ver! Rumah lo udah dikepuuuung!” gue teriak-teriak di depan pintu rumah Vera.

Vera muncul, masih pake sarung dan kaos oblong. “Ada apa sih, pagi-pagi udah gelar konser. Bilang aja assalammu’alaikum, gue juga pasti bukain pintu!”

“Namanya juga orang kesel! Gue sms elu berkali-kali sampe suara gue serak, gak lo bales!”

“Gue belom pegang hape, barusan selesei bantuin Kakek nimba aer buat ngisi bak mandi. Pompa gue rusak. Makanya lo kalo mau sms gue telpon dulu, biar gue tau kalo ada sms dari lo.”

Vera ngajak gue duduk di teras, dan disitulah gue mulai menceritakan maksud kedatangan gue.

“Pokoknya Ver, lo harus bantuin gue supaya nyokap gue ngijinin gue kos.”

“Boleh aja, tapi lu kosnya di Sudirman ya!”

Gue tetep menggeleng, teguh pada pendirian gue. “Gue gak akan ngasih tau sama lo dimana gue bakalan ngekos!”

“Ann, lo tuh butuh gue! Suatu saat lo bakalan minta tolong gue nimbain aer, atau beresin genteng, atau masangin lampu, atau ngecat pagar…”

“Ver,” gue memegang bahu Vera agar dia tegar. “Itu semua urusan ibu kos gue, lo gak usah ikut bantuin. Lo harus tau Ver, trauma kehilangan coklat itu masih membekas di hati gue. Dan gue belum bisa maapin lo.”

“Apa yang harus gue lakukan supaya lo bisa maapin gue dan ngasih tau di mana letak kos-kosan lo kelak?”

Ini momen paling mengharukan yang mungkin bisa gue manfaatin. Jadi gue langsung aja minta bantuannya. “Ver, lo bisa gue maapin, dengan syarat lo bantuin gue.”

“Dengan senang hati, my fren! Apapun bakal gue lakukan untuk lo. Lo adalah sobat sejati dalam hidup gue.”

“Bagus. Sekarang dengerin rencana gue.”

Terus kita berdua berbisik-bisik seolah sedang melakukan perjanjian dengan iblis. Nggak lama kemudian, palingan dua jam deh, Vera akhirnya ngerti maksud gue dan bersedia melakukan rencana gue. Gue pun pulang dengan hati lapang.

Sorenya, rencana itu mulai dijalankan. Sekitar dua lusinan anak kampung yang berhasil dikumpulin sama Vera,berdemonstrasi besar-besaran di depan rumah gue. Ada yang bawa kertas manila gede dengan tulisan tangan yang sangat jelek berbunyi “Usir Annie dari kampung ini, Demi Tuuuhaaaaan…!”

Ada juga yang bawa drum bekas dipukul-pukul sama kayu dengan nada lagu dangdut goyang caesar. Rupanya dia salah fokus, dikiranya ini rombongan obrog-obrog yang biasa bangunin sahur.

“USIR MBAK ANI DARI KAMPUNG INI…!!” teriak seorang anak yang bawa toa. Brisik banget. Moncongnya tepat di depan pintu rumah.

Mama yang lagi bikin kue di dapur jadi penasaran sama suara berisik di depan rumah. Mama langsung keluar rumah, terus kaget sampe rambutnya pada salto demi melihat aksi demonstrasi massa di halaman rumah.

“Apa-apaan ini?” Mama berkacak pinggang dengan gagah berani di depan para demonstran cilik itu.

“Tante! Kami menuntut agar Mbak Ani Muz…muuuuz….” anak yang nyautin Mama itu membuka contekan kecil di tangannya. “Muzdalifah, diusir dari kampung ini!”

“Masalahnya apa? Kenapa dia harus diusir? Memangnya dia teroris?!”

Anak yang jadi jubir demonstran itu kembali membuka kertas contekan. “Kami dari Persatuan Anak-Anak Sekampung Rawa Bebek, dengan ini menuntut satu, agar cewek bernama Ani Musdalipah diusir secara paksa dari kampung ini, dikarenakan telah membuat keresahan publik yang berujung pada statusisasi labilitas ekonomi!”

Mama melongo.

Anak itu kembali melanjutkan ultimatumnya. “Oleh karena itu kami menuntut agar dalam waktu satu kali duapuluh empat jam ke depan,sodara Ani harus keluar dari rumah ini! Juga dari kampung ini! Jika peringatan ini diabaikan, maka kami akan memanggil pihak yang berwajib untuk menahannya di kantor polisi! Demikian tuntutan kami. Tertanda, anak kampung Rawa Bebek. Billahi taufik wal hidayah, wassalammu’alaikumwarahmatullahi wabarakatuh…”

“Wa’alaikumsalam,” jawab Mama lirih. Mama bener-bener keliatan shock sekarang. Dan gue deg-degan nunggu reaksi Mama berikutnya sambil ngintip dari jendela kamar.

“Jadi, Ani sudah menganiaya kalian? Anak-anak kampung sini?” tanya Mama kemudian dengan suara serak menyimpan pedih.

Sekitar dua lusin wajah polos yang dibayar seribu seorang sama Vera menganggukkan kepalanya. Mama langsung shock, terus tau-tau Mama menangis sesenggukan.

“Ani melecehkan kalian? Siapa saja di antara kalian yang dia lecehkan?”

Anak-anak itu saling pandang, kayaknya gak ngerti maksud Mama. Terus, gak tau siapa yang mulai, mereka semua mengacungkan tangan.

“ANIIIII….!!” tiba-tiba Mama teriak memanggil gue. Gue langsung blingsatan keluar kamar.

“Ya, Mah?” gue jalan ke depan sambil berlagak ngucek-ngucek mata.”Ada apa sih Mah?”

Mama tiba-tiba menarik gue untuk menghadap kearah anak-anak yang demo. “Ani, lihat perbuatanmu! Anak-anak ini adalah korban pelecehan kamu! Mereka menuntut supaya kamu diusir! Kalo nggak, mereka akan lapor polisi!”

Gue pura-pura kaget.”Kok bisa sih? Ini fitnah!”

“Masa anak kecil berbohong?Ani, kamu telah melecehkan anak-anak ini! Mama nggak nyangka kamu akan berbuat sehina itu!” Mama terus terisak-isak.

“Kalo gitu, Mama usir aja Annie dari rumah ini, Mah. Pliiis, Mah, usir Annie…Annie gak mau mempermalukan Mama lagi. Annie takut nanti rumah kita dibakar kalo Annie nggak diusir..Pliiisss…Maaah…” Gue memohon-mohon sambil berlutut di depan Mama.

“Nggak bisa! Kalo Mama usir kamu, nanti kamu gentayangan di jalanan dan melecehkan lebih banyak anak kecil di luaran sana. Sudah tanggung jawab Mama menyembuhkan kamu! Ayo, sekarang juga Mama bawa kamu ke psikiater, kamu harus disembuhkan, sebelum ulah kamu makin meresahkan masyarakat!”

Adudududuuh…kenapa jadi begini?

Mama menjewer telinga gue dan ngegiring gue masuk rumah. Sementara liat gue dijewer, anak-anak yang demo makin semangat teriak-teriakin yel-yel pengusiran gue. Gue jadi berasa penyihir di abad pertengahan yang ketangkep dan harus dihukum gantung. Kemana si Vera sialaaaaan?

Gue sempet ngelirik ke teras sebelum Mama nutup pintu, dan ngeliat Vera sedang sibuk ngebubarin anak-anak sambil wajahnya cemas menatap ke arah gue yang bentar lagi bakalan dibawa Mama ke psikiater.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: